Oleh: hendra muharom | Februari 28, 2010

BE A BETTER PERSONAL

Dalam sebuah diskusi dgn seorang Penasihat…lebih cenderung spiritual moderat sih…Beliau memaparkan bahwa utk menghadapi segala soal hidup ini butuh Kerja Keras. Unsur Kerja Keras ini memiliki turunan yg saling tdk terpisahkan..

Ada empat hal yang perlu dilakukan dalam KERJA KERAS ini. Pertama adalah BERPIKIR KERAS. Jika kita terus menerus memikirkan apa yang harus kita lakukan setiap saat, apa yang bisa kita lakukan agar diri kita bisa berkembang, apa yang salah dengan sesuatu yang telah kita kerjakan, maka setiap masalah akan selalu ada jalan keluarnya. Dengan terus berpikir, kita menjadi lebih kreatif, lebih percaya diri, dan lebih banyak alternatif kerja yang bisa membawa kita kepada kemajuan. Jadi, teruslah berpikir untuk kemajuan kita.

Kedua, adalah BERTINDAK KERAS. Jangan sekedar diomongkan atau dipikirkan. Adalah bagaimana kita dengan kesungguhan melakukan berbagai tindakan dan kerja-kerja dalam mencapai apa yang kita inginkan. Berapa lama waktu kita gunakan dalam sehari-hari untuk bekerja secara produktif, dan berapa lama yang kita gunakan untuk main-main? Kerja keras semacam inilah yang bisa membuat kita lebih maju, mandiri, dan terus naik menggapai kesuksesan yang kita inginkan. Tidak ada yang namanya keberhasilan tanpa ada kerja keras.

Ketiga adalah BERDOA KERAS. Berdoa adalah selalu menghubungkan diri kita dengan Tuhan agar dalam setiap pekerjaan kita mendapatkan keberkahan dari-Nya. Mulailah melaksanakan sembahyang wajib, puasa, dan pergunakan waktu di mana saja untuk berdzikir dan mengingat Allah. Dengan berdoa keras hati kita akan tenang, dan insya-Allah kita selalu diberi keberkahan dalam berbagai kegiatan sehari-hari.

Dan terakhir adalah KERAS DALAM BERSABAR. Artinya, kalau kita sudah bekerja keras tetapi belum mendapatkan apa yang kita inginkan, berarti mungkin memang Tuhan belum mengizinkan kita mendapatkannya. Yakinlah, suatu saat nanti Tuhan akan memberikan sesuatu pada saat yang tepat, sehingga akan selalu indah pada waktunya. Jadi, kalau belum berhasil, bersabarlah. InsyaAllah akan ada selalu hikmah dibalik kesabaran yang kita lakukan.

Bagaimana kita mengukur bahwa kita sudah bekerja keras dalam kehidupan kita, mudah saja. Jika dalam 1-2 tahun ke depan tidak ada perubahan apa-apa dalam hidup kita, saatnya melakukan introspeksi diri, mungkin kita belum bekerjka keras. Jadi, mengapa masih bermalas-malasan? Ayo, kita mulai bekerja dengan baik, sekarang juga…
Dikutip dr Diskusi Kyai Abdullah Syukri Zarkasyi MA-Pimpinan Pondok Modern Gontor, dlm milist GONTORIANS
Allahu a’lam Bisshowab.

Oleh: hendra muharom | Februari 28, 2010

BE A BETTER PERSONAL

Dalam sebuah diskusi dgn seorang Penasihat…lebih cenderung spiritual moderat sih…Beliau memaparkan bahwa utk menghadapi segala soal hidup ini butuh Kerja Keras. Unsur Kerja Keras ini memiliki turunan yg saling tdk terpisahkan..

Ada empat hal yang perlu dilakukan dalam KERJA KERAS ini. Pertama adalah BERPIKIR KERAS. Jika kita terus menerus memikirkan apa yang harus kita lakukan setiap saat, apa yang bisa kita lakukan agar diri kita bisa berkembang, apa yang salah dengan sesuatu yang telah kita kerjakan, maka setiap masalah akan selalu ada jalan keluarnya. Dengan terus berpikir, kita menjadi lebih kreatif, lebih percaya diri, dan lebih banyak alternatif kerja yang bisa membawa kita kepada kemajuan. Jadi, teruslah berpikir untuk kemajuan kita.

Kedua, adalah BERTINDAK KERAS. Jangan sekedar diomongkan atau dipikirkan. Adalah bagaimana kita dengan kesungguhan melakukan berbagai tindakan dan kerja-kerja dalam mencapai apa yang kita inginkan. Berapa lama waktu kita gunakan dalam sehari-hari untuk bekerja secara produktif, dan berapa lama yang kita gunakan untuk main-main? Kerja keras semacam inilah yang bisa membuat kita lebih maju, mandiri, dan terus naik menggapai kesuksesan yang kita inginkan. Tidak ada yang namanya keberhasilan tanpa ada kerja keras.

Ketiga adalah BERDOA KERAS. Berdoa adalah selalu menghubungkan diri kita dengan Tuhan agar dalam setiap pekerjaan kita mendapatkan keberkahan dari-Nya. Mulailah melaksanakan sembahyang wajib, puasa, dan pergunakan waktu di mana saja untuk berdzikir dan mengingat Allah. Dengan berdoa keras hati kita akan tenang, dan insya-Allah kita selalu diberi keberkahan dalam berbagai kegiatan sehari-hari.

Dan terakhir adalah KERAS DALAM BERSABAR. Artinya, kalau kita sudah bekerja keras tetapi belum mendapatkan apa yang kita inginkan, berarti mungkin memang Tuhan belum mengizinkan kita mendapatkannya. Yakinlah, suatu saat nanti Tuhan akan memberikan sesuatu pada saat yang tepat, sehingga akan selalu indah pada waktunya. Jadi, kalau belum berhasil, bersabarlah. InsyaAllah akan ada selalu hikmah dibalik kesabaran yang kita lakukan.

Bagaimana kita mengukur bahwa kita sudah bekerja keras dalam kehidupan kita, mudah saja. Jika dalam 1-2 tahun ke depan tidak ada perubahan apa-apa dalam hidup kita, saatnya melakukan introspeksi diri, mungkin kita belum bekerjka keras. Jadi, mengapa masih bermalas-malasan? Ayo, kita mulai bekerja dengan baik, sekarang juga………
Dikutip dr Diskusi Kyai Abdullah Syukri Zarkasyi MA-Pimpinan Pondok Modern Gontor, dlm milist GONTORIANS
Allahu a’lam Bisshowab,

Oleh: hendra muharom | Oktober 3, 2007

Zakat For Health At Masjid Al-Ittihad

ZAKAT UNTUK KESEHATAN, PENDIDIKAN, dan PEMBERDAYAAN EKONOMI SEBAGAI PILAR ISLAM SOLUSI KEMISKINAN

Di dalam raga yanpada kita bahwa kesehatan jasmani menjadi salah satu faktor penting dalam kekuatan jiwa manusia. Manusia yang sehat dan memiliki jiwa yang kuat dituntut memiliki produktivitas dalam hidupnya. Angka kemiskinan di sekitar kita, bagaikan bola salju yang terus menggelinding. Data Badan Pusat Statistik (BPS) dengan garis kemiskinan perkotaan Februari 2005 sebesar Rp. 150.799 perkapita perbulan mencapai 35,10 juta jiwa. Dengan garis kemiskinan Maret 2006 sebasar Rp. 175.324 per kapita perbulan, jumlah orang miskin naik menjadi 39,05 juta jiwa (17,7% dari total penduduk Indonesia). Meskipun data BPS bulan Juni 2007 menunjukkan penurunan jumlah penduduk kategori miskin menjadi 37 juta jiwa, namun jika berpedoman pada standar kemiskinan Bank Dunia, yaitu 2 US Dollar perhari, menggunakan asumsi US $ 1 = Rp. 9000, maka garis kemiskinan Bank Dunia setara dengan Rp. 540.000 perkapita perbulan. Apabila garis kemiskinan Bank Dunia ini dijadikan patokan, maka diperkirakan jumlah orang miskin dinegeri ini bisa mencapai 120 juta jiwa (50% dari total penduduk Indonesia, Sumber : HU Republika 21 September 2007). Berbagai program yang dapat kita lihat, dilakukan oleh Pemerintah untuk menanggulangi permasalahan ini. Salah satunya adalah Bantuan Langsung Tunai (BLT) dari subsidi BBM. Dapat kita ketahui, tidak sedikit masalah lain timbul dari pelaksanaannya. Kita yakini maksud program ini baik, namun realita di lapangan, ternyata membutuhkan kejelian dan kepekaan efektivitas tujuan semula. Diantara beberapa kasus yang dilansir pemberitaan sebagai dampak pelaksanaan program BLT ini, tidak meratanya distribusi bantuan kepada yang berhak, bahkan suatu kasus memicu terjadinya tindak kriminal atas seleksi prosedur penerima bantuan, akibat kecemburuan tidak menerima jatah bantuan. Zakat, Infaq dan Sedekah, adalah dana hibah yang diberikan Muzaki, Munfiq dan Mushaddiq (Masyarakat Muslim). Dalam beberapa penjelasan ayat al Qur’an, ibadah zakat kerap kali disandingkan dengan ibadah shalat. Ini menandakan bahwa zakat tidak kalah penting perhatiannya dari ibadah lain. Terlebih lagi dalam konteks syariah, bahwa Islam dibangun atas lima rukun, salah satunya ZAKAT. Pilar bangunan inilah yang akan menjadi fokus kinerja UPZ Masjid Al-Ittihad Legenda Wisata. UPZ Masjid Al-Ittihad Legenda Wisata sebagai lini masjid yang fokus atas penghimpunan dan penyaluran Zakat, Infaq-Shadaqah dan Wakaf (ZISWAF) di harapkan menjadi salah satu upaya masyarakat membantu pemerintah dalam penanggulangan kemiskinan, khususnya di sekitar Wilayah Legenda Wisata, Bogor. Seperti kita ketahui, dana zakat, telah dikhususkan peruntukkannya. Delapan (8) ashnaf dari penerima zakat yang disyariahkan dalam Al Qur’an menjadi ketentuan kriteria yang berhak. Fakir, miskin adalah urutan pertama dari Surat Attaubah ayat 60 tentang pembagian zakat : Sesungguhnya, zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai sesuatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” Berangkat dari permasalahan BLT program pemerintah yang menuai pro dan kontra, salah satu masalahnya adalah belum tersedianya sistem yang kokoh dalam pelaksanaan program tersebut. Meskipun tentu telah diciptakan prosedur pelaksanaan dan kontrol, namun kita belum mampu melihat efektivitas program tersebut. Ini menjadi pelajaran penting bagi UPZ, bahwa sistem dan tujuan dari menghimpun serta menyalurkan zakat merupakan satu kesatuan utuh. Selama ini, ditengah-tengah semangat ibadah shaum bulan ramadhan, mendirikan qiyamullail, dan menunaikan zakat menjadi perhatian penting untuk kesadaran ummat. Terlebih atas kebiasaan penunaian zakat, sebagian besar kaum muslimin memanfaatkan momen ramadhan sebagai saat yang tepat untuk menunaikan zakat ini, dengan harapan mendapat pahala yang berlipat. Padahal yang dimaksud benar adalah zakat fitrah. Karena memang ketentuan membayarnya dan menyalurkannya terkait dengan batas sampai saat jelang shalat ‘Idul Fitri. Lain halnya dengan zakat yang lain yakni zakat maal, peternakan, pertanian. Hal ini seolah terabaikan dan mendapat kurang perhatian disekeliling kita saat ini. Jika kita telusuri, zakat fitrah memang di salurkan sebagai solusi berbagi kebahagiaan yang berpunya dan kuam papa saat Hari Raya ‘Idul Fitri. Namun pertanyaannya adalah, “Apakah mereka menunggu satu tahun kedepan berharap memenuhi kebutuhannya dari zakat fitrah lagi untuk mendapat hak mereka?”. Inilah fungsi Zakat Maal, Perniagaan/Perusahaan, Simpanan, Profesi, Peternakan, Pertanian yang ketentuan penunaiannya tidak mesti menjelang hari raya ‘Idul Fitri. Ketentuan nishab dan haul (1 tahun penuh) menjawab permasalahan pertanyaan tadi. Dengan ketentuan nishab dan haul, permasalahan fakir miskin dapat diatasi sepanjang tahun. Zakat Maal, Simpanan dan Profesi serta zakat harta lainnya dapat disalurkan tidak hanya pada bulan ramadhan dan sistem penyalurannya pun tidak kaku seperti halnya zakat fitrah yang harus segera tersalurkan. Bahkan ulama besar International Syekh Yusuf Qardhawi dalam bukunya Fiqih Zakat, jika memungkinkan, dana zakat maal (harta) dapat disalurkan dalam bentuk menciptakan pabrik yang pekerjanya para mustahik (penerima zakat). UPZ Masjid Al-Ittihad bekerja sama dengan salah satu Lembaga Zakat Nasional profesional akan berupaya merealisasikan sistem pengelolaan zakat yang InsyaAllah menjadi harapan para mustahik sekitar Legenda Wisata. Program penyaluran jangka waktu menengah dari zakat maal (harta) yang terkumpul akan dikelola untuk ashnaf dalam bentuk konsumtif (tunai sesaat) untuk kebutuhan mendesak mustahik dan produktif (jangka waktu) untuk upaya peningkatan kesejahteraan mustahik menuju muzaki dimasa datang. Program penyaluran zakat maal produktif ini, akan difokuskan dalam tiga lingkup penyaluran. Pendidikan, Kesehatan, dan Pemberdayaan Ekonomi. Kedepan, UPZ Masjid Al-Ittihad bersama kepercayaan para muzaki Legenda Wisata dan sekitarnya atas zakat,infaq-shadaqah dan wakafnya, tidak mustahil akan memiliki program penyaluran melalui pendirian PUSKESMAS gratis untuk mustahik misalnya, atau pun Lembaga Pendidikan/Sekolah gratis untuk mustahik dan lainnya. Penyaluran zakat produktif yang telah berjalan kini, adalah pemberdayaan ekonomi Rp. 50 juta dari dana zakat maal Muzaki Legenda Wisata ramadhan tahun lalu, untuk masyarakat kurang mampu di tiga wilayah. Nagrak, Cikeas Udik, Wanaherang. Tahap yang sudah dikembangkan adalah penyaluran modal usaha kecil melalui pendampingan usaha mikro. Sejumlah 48 orang penerima program ini telah diseleksi dan dibina dengan cara pendampingan dalam penggunaannya. Untuk selanjutnya mereka menjadi kelompok-kelompok mandiri yang dapat menyalurkan kembali modal yang digulirkan, kepada rekannya yang baru untuk bantuan modal yang sama. Dalam jangka menengah selanjutnya, UPZ akan berupaya merealisasikan kemungkinan Program Penyaluran Dana Zakat Maal masyarakat Legenda Wisata untuk terwujudnya fasilitas dan akses kesehatan GRATIS untuk dhuafa di sekitar Perumahan Legenda Wisata dari dana zakat. Oleh karena itu, mohon doa restu dan dukungan kepercayaannya agar rencana dan aksi program ini dapat terealisasikan dengan baik. Insya Allah, dengan dukungan moril dan materil, doa dan dana zakat, infaq-shadaqah dan wakaf anda, Allah akan memberikan kemudahan dan keberkahan. Amiin.

Jakarta, 23 Agustus 200705.15By. Hendra Muharom-UPZ Masjid Al Ittihad

Kelestarian Pengemis, Pengamen dan Preman Jalanan (3P)

Melihat tumbuh kembangnya BAZ dan LAZ, sebagai pengelola dana masyarakat berupa Zakat, Infaq, Shadaqah, Wakaf, Hibah dan dana sosial lainnya, merupakan salah satu elemen penting dalam upaya menghadirkan solusi masalah kemiskinan dan pengangguran.

“fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara” serta “setiap warga negara berhak mendapatkan penghidupan dan pekerjaan yang layak” adalah klausul undang-undang dasar yang sudah melekat dalam tatanan bernegara di Indonesia. Namun, kita belum melihat upaya yang optimal dan fenomenal dalam pelaksanaannya dalam kurun waktu 62 tahun ini. Angka kemiskinan dan pengangguran masih diatas 10% (data BPS) adalah buktinya.

Keberadaan BAZ dan LAZ juga tumbuh sebagai tatanan yang diundangkan dengan hukum positif. UU No. 38 tahun 1999 adalah produknya. Ini merupakan inisiasi bahwa aktivitas BAZ dan LAZ mendapat perhatian negara, meskipun masih belum terlalu besar.UU No. 17 Pasal 17 tahun 2000 tentang zakat sebagai pengurang penghasilan kena pajak belum mampu berubah menjadi pengurang pajak salah satu indikatornya.Mengangkat isu yang mikro di sebuah musholla, sebagian besar dari kita tidak manyadari atau kalau pun ada yang sadar, mungkin masih lebih sedikit, bahwa kelestarian pengemis, pengamen, dan preman salah satu pihak pelestarinya adalah pihak masyarakat sendiri. Berniat amal shaleh tapi menjadi amal yang salah! Apakah aktivitas ini kita biarkan?sampai kapan?

Mari kita normatifkan.

2;261 ”Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah* (*footnote terjemah DEPAG: meliputi belanja untuk kepentingan jihad, pembangunan perguruan, rumah sakit, usaha penyelidikan ilmiyah dan lain-lain) adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir; seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.”

2;263Perkataan yang baik*(*footnote terjemah DEPAG: maksudnya menolak dengan cara yang baik) dan pemberian ma’af** (**footnote terjemah DEPAG : ialah mema’afkan tingkah laku yang kurang sopan dari sipeminta) lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun.”

2;269 ”Allah memberikan hikmah kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang diberi hikmah, sungguh telah diberi kebajikan yang banyak. Dan tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang berakal.”

2;271 ”Jika kamu menampakkan sedekah (mu)* (*footnote terjemah DEPAG: menampakkan sedekah dengan tujuan supaya dicontoh orang lain), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya* (*footnote terjemah DEPAG: menyembunyikan sedekah itu lebih baik dari menampakkannya, karena menampakkan itu dapat menimbulkan riya pada diri sipemberi dan dapat pula menyakitkan hati orang yang diberi) dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikannya lebih baik bagimu. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

2;273 ”(Berinfaklah) kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah; mereka tidak dapat (berusaha) di bumi; orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya karena memelihara diri dari minta-minta. Kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui.”

Struktur ayat-ayat ini, surat Albaqarah dalam Alquran Terjemah DEPAG diatas ayat 261 diberi Sub Judul CARA CARA PENGGUNAAN HARTA DAN HUKUM-HUKUMNYA dalam point Menafkahkan harta di jalan Allah (2;261-274), dari beberapa point meliputi Hukum riba (2;275-281), Kesaksian dalam mu’amalah (2;282-283), Pujian Allah terhadap para mu’min dan do’a mereka (2;284-286).

Terima kasih mas Arif Fajar (moderator dalam Pelatihan Nasional Manajemen Organisasi Pengelola Zakat tgl 21-22 Agustus di Jakarta dalam sesi pembica Pa. Eri Sudewo), karena andalah tulisan ini ada, dan saya mulai belajar menulis. Saya Mohon maaf juga kepada Mas Arif, karena kebodohan saya dalam menyampaikan pertanyaan dan diburu waktu, sehingga Mas Arif kurang tepat menangkap paparan saya ketika sesi pertanyaan. Akhirnya saya merangkainya dalam coretan ini, dan memperjelas kembali koreksi atas terjemah paparan saya yang kurang mewakili kala itu Mas Arif menyimpulkan pertanyaan saya kurang lebih ”Peranan BAZ dan LAZ yang selama ini prioritas fokus lebih banyak kepada fundraising, bagaimana diarahkan kepada fokus mustahik” ,mohon dikoreksi jika notulen kala itu merekam, krn saya jg agak lupa, tapi intinya tetap saya kurang puas.Ini menyebabkan tanggapan dari Pa. Eri pun, yang saya harapkan tidak nyambung. Arah Pertanyaan saya kala itu mengenai Social Quotion, dimana aspek sosial tidak hanya mustahik tapi juga amil dan muzakki/munfik (Mas Arif menerjemahkan aspek mustahik saja).

Nah yang saya harapkan dari Pa. Eri adalah ”Bagaimana membangun kecerdasan sosial secara keseluruhan?” latar belakangnya struktrur ayat-ayat diatas. Aspek fundraising yang saya maksud fokus ”dakwah”BAZ dan LAZ atas Ayat 60 dan 103 Attaubah dan Albaqarah ayat 261 dan 271, menurut saya, amil perlu mengembangkan aspek dakwah ayat 263,269,273. Perlu dikembangkan ide-ide strategic plan and action dari BAZ dan LAZ untuk tiga ayat terakhir ini. Ini usulan dan mohon tanggapan serta koreksinya, kita kembangkan dan rancang, supaya sikap masyarakat tidak keliru, NIAT AMAL SHALEH malah jadi AMAL SALAH. 3P dalam judul menjadi lestari akibat dipeliharanya budaya shadaqah dalam bis dan jalanan dibiarkan, tanpa adanya sosialisasi dan kampanye, terlebih lagi uswah. Mahluk 3P semakin ”betah” karena punya ”penghasilan”. Saya pikir, sebagai BAZ dan LAZ yang merupakan komunitas terorganisir, tidak mustahil memperjuangkan undang-undangnya secara positif, karena buktinya dapat kita lihat, pemerintah sebagai wakil pelaksana negara kurang optimal.(Ini harapan saya datang dari Pa. Eri juga dari aspek UU positipnya). Bagaimana?.Syukron. Astaghfirullah, wallaahu a’lam bishshawab.

Oleh: hendra muharom | Juli 27, 2007

GENERASI QUR’ANI

GENERASI QUR’ANI

By : Hendra Muharom

(Jakarta, 28 Rabiul Akhir 1428 – 16 Mei 2007 )

05.15

Rasulullah SAW adalah pemimpin agung di jagad raya ini. Di dunia Barat, seorang ahli falak atau astronom dan juga ahli sejarah, Michael H. Heart, menempatkan utusan penyempurna akhlak ini pada urutan pertama dari 100 tokoh besar dunia yang memberikan pengaruh peradaban.

Sementara ulama meyakini dalam suatu riwayat, ketika Nabi sedang wukuf di Arafah pada hari jum’at tanggal 9 Dzul Hijjah tahun ke tujuh, turun wahyu terakhir sebagai petunjuk pamungkas menyempurnakan keseluruhan sistem Dinul Islam. Penggalan firman Allah dalam ayat terakhir itu adalah; “…pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku dan telah Ku-ridhoi Islam itu jadi agama bagimu.” ( Q.S. Al-Maidah ; 3). Hal ini disampaikan Nabi dalam khutbahnya yang terakhir menjelang wafat. Setelah ayat ini turun, Nabi Muhammad SAW masih menjalani hidupnya 81 hari lagi.

Sejak hari itu, Islam telah sempurna dan siap menjadi pedoman hidup manusia di setiap zaman. Hal ini, Allah sendiri yang menjamin keaslian Al-Qur’an sebagai petunjuk yang tak lekang oleh waktu. “ Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur’an dan sesungguhnya Kami benar – benar memeliharanya”(Q.S. Al-Hijir ; 9). Ayat ini memberikan jaminan tentang kesucian Al-Qur’an selama – lamanya.

Selepas Rasulullah SAW mangkat memenuhi panggilan-Nya, kader – kadernya yang Qur’ani siap melanjutkan risalahnya. Merekalah Al-Khulafaur Rasyidin, yaitu Abu Bakar As-Shiddiq, Umar Ibnul Khattab, Utsman Bin Affan dan Ali bin Abi Thalib. Empat negarawan Islam ini telah menjadikan Al-Qur’an mengakar dalam kepemimpinannya mengurusi masalah umat. Kepemimpinan mereka menghadirkan keadilan dan kesejahteraan umat yang berlandaskan wahyu Allah. Keadilan yang berlandaskan sumber dari segala sumber hukum, Al-Qur’an. Kesejahteraan umat atas prinsip – prinsip Ilahi.

Empat sahabat sebagai generasi pengemban risalah ini, memang semuanya hidup bersama semasa Rasulullah SAW, maka tidak salah jika ada yang berpendapat, keberhasilan kepemimpinan mereka disebabkan ber-Uswah (teladan) kepada sosok yang dapat mereka lihat dan berinteraksi langsung. Tapi jangan lupakan, dalam generasi selanjutnya periode Daulah Bani Umayah yang berlangsung selama hampir 90 tahun (41-127 H), seorang Umar bin Abdul Aziz rahimahullah (99-101 H) menampilkan keagungan sistem keadilan Al-Quran dan mewujudkan kesejahteraan umat. Umar bin Abdul Aziz tidak hidup dan berinteraksi langsung semasa Rasullullah SAW, tapi mampu mewujudkan apa yang telah diwujudkan Nabi Muhammad SWA dan Al-Khulafaur Rasyidin, yakni keadilan dan kesejahteraan Qur’ani. Wallaahu a’lam bish-shawab.

Oleh: hendra muharom | Juli 24, 2007

KONTEKS PENGANGGURAN DAN KEMISKINAN

By : Hendra Muharom
(Jakarta, 27 Rabiul Akhir 1428 – 15 Mei 2007 )
05.35

Kurang lebih 40 juta orang (Maret 2006 : 39,05 juta) di negeri ini miskin dan papa serta lebih dari 1o juta jiwa (Februari 2007 : 10,55 juta) terkategorikan menganggur !
Dalam bahasa arab, makna miskin dapat diartikan diam, berhenti, tinggal
(asal kata : sakana – yaskunu). Keadaan ini dapat kita tafsirkan menjadi pengertian bahwa ketidakberdayaan dan merasa tidak dapat bergerak, juga dikategorikan miskin. Orang yang tidak menggairahkan dirinya dan tidak dapat keluar dari apa yang menurutnya masalah, juga miskin !
Kemiskinan seolah tak henti menjadi lintasan dan bahkan renungan banyak orang di negeri ini. Namun juga sayang, ada saja orang yang memanfaatkan orang miskin sebagai washilah (perantara) untuk kepentingan nafsu pribadi. Subhanallah, sungguh terkutuk orang yang mengeksploitasi orang miskin hanya untuk memenuhi nafsu perut dan bawah perut.
Dalam banyak definisi taqwa yang diuraikan firman Allah SWT melalui ayat – ayat-Nya, kerap kali sandingan kalimatnya dikaitkan dengan kepedulian terhadap orang miskin. Salah satu ayat Al-Qur’an menyebutkan :
”… sesungguhnya kebaikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat – malaikat, kitab – kitab, nabi – nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak – anak yatim, orang – orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang – orang yang meminta – minta, dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat dan orang – orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji dan orang – orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang – orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang – orang yang bertaqwa.” (Q.S. Al Baqarah; 177)
Kalau boleh diartikan secara bebas, keluasan makna taqwa begitu utuh menyentuh aspek sosial, tidak dominan aspek spiritual sebatas ketaatan mengerjakan sholat, menunaikan zakat, puasa dan menjauhi larangan-Nya berzina.
Lebih dari itu, pengangguran yang melanda negeri ini, bahkan dunia !, adalah salah satu sunnatullah (ketetapan Allah) yang mungkin saja sengaja Allah tidak menghilangkannya dari kehidupan bermasyarakat.
Jika pengangguran itu diartikan tidak bekerja dan tidak dapat keluar dari masalahnya sendiri yaitu menganggur, dengan demikian konteks diatas, penganggur juga miskin !. Akhirnya, MISKIN = orang miskin + penganggur.
Ketaqwaan yang hakiki, pada hakikatnya tidak mengenal kemiskinan harta. Justru orang – orang yang tidak memiliki keimananlah yang miskin sesungguhnya. Wallahu a’lam bish-shawab.

Oleh: hendra muharom | Juli 24, 2007

Let’s Make A Network!

Saya adalah seorang insan yang berkeinginan kuat untuk hidup dengan kahausan Ilmu. Untuk berusaha maju, sesederhana ATM, Amati-Tiru-Modivikasi. Bismillaah! Slalu untuk menuju perbaikan day-to-day.

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.