KONTEKS PENGANGGURAN DAN KEMISKINAN
By : Hendra Muharom
(Jakarta, 27 Rabiul Akhir 1428 – 15 Mei 2007 )
05.35
Kurang lebih 40 juta orang (Maret 2006 : 39,05 juta) di negeri ini miskin dan papa serta lebih dari 1o juta jiwa (Februari 2007 : 10,55 juta) terkategorikan menganggur !
Dalam bahasa arab, makna miskin dapat diartikan diam, berhenti, tinggal
(asal kata : sakana – yaskunu). Keadaan ini dapat kita tafsirkan menjadi pengertian bahwa ketidakberdayaan dan merasa tidak dapat bergerak, juga dikategorikan miskin.
Orang yang tidak menggairahkan dirinya dan tidak dapat keluar dari apa yang menurutnya masalah, juga miskin !
Kemiskinan seolah tak henti menjadi lintasan dan bahkan renungan banyak orang di negeri ini. Namun juga sayang, ada saja orang yang memanfaatkan orang miskin sebagai washilah (perantara) untuk kepentingan nafsu pribadi. Subhanallah, sungguh terkutuk orang yang mengeksploitasi orang miskin hanya untuk memenuhi nafsu perut dan bawah perut.
Dalam banyak definisi taqwa yang diuraikan firman Allah SWT melalui ayat – ayat-Nya, kerap kali sandingan kalimatnya dikaitkan dengan kepedulian terhadap orang miskin. Salah satu ayat Al-Qur’an menyebutkan :
”… sesungguhnya kebaikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat – malaikat, kitab – kitab, nabi – nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak – anak yatim, orang – orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang – orang yang meminta – minta, dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat dan orang – orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji dan orang – orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang – orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang – orang yang bertaqwa.” (Q.S. Al Baqarah; 177)
Kalau boleh diartikan secara bebas, keluasan makna taqwa begitu utuh menyentuh aspek sosial, tidak dominan aspek spiritual sebatas ketaatan mengerjakan sholat, menunaikan zakat, puasa dan menjauhi larangan-Nya berzina.
Lebih dari itu, pengangguran yang melanda negeri ini, bahkan dunia !, adalah salah satu sunnatullah (ketetapan Allah) yang mungkin saja sengaja Allah tidak menghilangkannya dari kehidupan bermasyarakat.
Jika pengangguran itu diartikan tidak bekerja dan tidak dapat keluar dari masalahnya sendiri yaitu menganggur, dengan demikian konteks diatas, penganggur juga miskin !. Akhirnya, MISKIN = orang miskin + penganggur.
Ketaqwaan yang hakiki, pada hakikatnya tidak mengenal kemiskinan harta. Justru orang – orang yang tidak memiliki keimananlah yang miskin sesungguhnya. Wallahu a’lam bish-shawab.